noctics

Just another WordPress.com site

RESEP RUMAH TANGGA BAHAGIA

Banyak orang berumah tangga, tetapi tidak mendapatkan keharmonisan dan ketenangan dalam rumah tangganya.
Suami dan istri sering bertengkar, padahal seharusnya hal itu tidak perlu terjadi. Karena itu, saran-saran berikut ini bisa diperhatikan, agar suami istri menjadi pasangan yang penuh kedamaian.

1. Lapang dada terhadap kesalahan pasangannya.
Hal ini sebaiknya dilakukan, lebih-lebih terhadap kesalahan yang tidak disengaja, baik yang berkenaan dengan ucapan ataupun perbuatan.

Pasangan suami isteri wajib bersabar ketika melihat kekhilafan pasangan hidupnya, dan berusaha mencari berbagai alasan pembenar mengapa pasangannya melakukan hal tersebut. Demikian pula, mereka berkewajiban untuk tidak melayani amarah dengan amarah. Sehingga, apabila suami atau isteri melihat pasangannya sedang emosi, maka dia berkewajiban untuk menahan amarah dan tidak memberikan reaksi langsung terhadap sikap emosional tersebut.

Isteri, dalam hal ini, memiliki kewajiban lebih besar dibandingkan laki-laki, karena adanya hak-hak suaminya atas dirinya. Betapa indahnya perkataan seorang shahabat Nabi yang bernama Abu Darda’ kepada isterinya, “Jika engkau melihat diriku sedang emosi maka redakanlah emosiku. Sebaliknya jika aku melihatmu bersikap emosional kepadaku maka aku akan meredakan amarahmu. Jika hal ini tidak kita lakukan, maka kita tidak akan bisa hidup bersama.”

2. Empati dan perhatian kepada pasangannya, dalam susah maupun senang.
Sesungguhnya, rasa cinta tidaklah datang dengan tiba-tiba, atau memancar dari bumi dengan sendirinya. Jika kita tidak berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta dan melakukan usaha untuk mewujudkannya, tentu rasa cinta tidak akan datang.
Sesungguhnya, faktor terpenting untuk menumbuhkan ataupun untuk melanggengkan rasa cinta adalah rasa empati. Jika suasana rumah tangga tidak dipenuhi dengan rasa empati, maka hilanglah rasa cinta dan semangat untuk bekerja sama. Sebagai gantinya, akan muncul kebencian dan kemalasan.

Empati atau kebersamaan rasa dalam suasana gembira akan menjadikan rasa cinta semakin tumbuh bersemi. Dan akan membantu pasutri ketika terjadi musibah.
Hendaknya pasangan suami isteri saling menolong ketika susah dan senang, untuk menghadirkan kegembiraan dan mencegah kesedihan, agar berbagai hajat kebutuhan terpenuhi dan berbagai kesedihan terhindari.

3. Menjaga Rahasia Masing-masing.
Suami isteri tidak boleh menceritakan, menyebarluaskan dan mengkabarkan aib-aib tersembunyi yang dimiliki pasangannya kepada orang lain. Ini merupakan kewajiban masing-masing suami dan isteri. Akan tetapi kewajiban isteri dalam hal ini lebih besar daripada suami. Karena dampak negatif yang ditimbulkan oleh sikap isteri yang meremehkan hal ini adalah sangat besar sekali.
Sesungguhnya, menyebarluaskan rahasia rumah tangga itu akan menimbulkan dampak yang sangat mengerikan, baik dalam sisi agama ataupun sisi dunia. Bahkan bisa menjadikan sebuah rumah tangga menjadi hancur berkeping-keping.

4. Tidur Bersama.
Seorang isteri memiliki kewajiban untuk memenuhi panggilan suaminya, ketika sang suami menginginkan dirinya, meskipun saat itu san sang isteri tidak berhajat. Kecuali, jika ada alasan yang bisa dibenarkan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap suami yang mengajak isterinya ke tempat tidur, lalu isterinya menolak, maka Allah akan murka kepada isteri tersebut, sampai suami meridhainya.”
Syariat tidak hanya menuntut isteri untuk memenuhi permintaan suami. Akan tetapi, syariat juga menuntut suami untuk memenuhi hak biologis isteri, tidak melalaikan isteri, atau sengaja meninggalkannya.
Seorang suami diperintahkan untuk memenuhi kebutuhan biologis isteri, sesuai dengan kebutuhan isteri dan kemampuan suami.

5. Berhias dan Berdandan.
Seorang isteri seharusnya berhias untuk suaminya, demikian pula seorang suami hendaknya berhias untuk isterinya.
Mengenai berhias, hendaknya suami dan isteri memberikan perhatian dengan porsi yang sepantasnya.
Seorang isteri berkewajiban berhias untuk suaminya. Bahkan, hal tersebut termasuk hak suami atas isteri, meskipun untuk hal tersebut isteri terpaksa menghabiskan banyak waktu. Hal ini dikarenakan berhias merupakan sebab tumbuhnya rasa cinta dan kasih sayang antara suami dan isteri. Namun isteri harus berhati-hati jangan sampai berhias dengan sesuatu yang diharamkan meski hal tersebut diperintahkan dan dicintai oleh suami. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada kewajiban taat kepada makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad).

Demikian pula seorang suami, seharusnya berhias untuk isterinya dengan hal-hal yang sesuai dengan sifat kelaki-lakiannya.
Sesungguhnya, sebagaimana seorang suami ingin melihat isterinya berdandan cantik untuknya, demikian pula seorang isteri ingin melihat suaminya berdandan tampan untuknya. Allah berfirman, “Dan para isteri itu memiliki hak semisal kewajiban yang wajib mereka penuhi dengan kadar sepatutnya.” (QS. al-Baqarah:228). Wallahu a’lam.

Iklan
Tinggalkan komentar »

SSSSSSS. RAHASIA BIDADARI SURGA ?

Baca pelan-pelan, hayati, pahami dan renungi.

Sobat,
Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak akan hilang kenikmatannya, tidak akan layu kemudaannya, dan tidak akan habis Rezekinya. Suatu tempat dimana para penghuninya tidak akan mati, bangunan2nya tidak akan rusak, yang muda tidak akan menjadi tua, kemolekan dan kebaikan tidak akan berubah, anginnya bertiup lembut, airnya merupakan tasnim, para penghuninya hidup dalam naungan rahmat.

Imam Ibnul Qoyyim berkata:

“Jika anda bertanya tentang mempelai wanita dan istri-istri penduduk surga, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang sangat cantik dan sebaya. Pada diri mereka mengalir darah muda, pipi mereka halus dan segar bagaikan bunga dan apel, gigi mereka bagaikan intan mutu manikam, keindahan dan kelembutan mereka selalu menjadi dambaan.

Elok wajahnya bagaikan terangnya matahari, kilauan cahaya terpancar dari gigi-giginya dikala tersenyum. Jika anda dapatkan cintanya, maka katakan semau anda tentang dua cinta yang bertaut. Jika anda mengajaknya berbincang (tentu anda begitu berbunga), bagaimana pula rasanya jika pembicaraan itu antara dua kekasih (yang penuh rayu, canda dan pujian). Keindahan wajahnya terlihat sepenuh pipi, seakan-akan anda melihat ke cermin yang bersih mengkilat (maksudnya, menggambarkan persamaan antara keindahan paras bidadari dengan cermin yang bersih berkilau setelah dicuci dan dibersihkan, sehingga tampak jelas keindahan dan kecantikan). Bagian dalam betisnya bisa terlihat dari luar, seakan tidak terhalangi oleh kulit, tulang maupun perhiasannya.

Andaikan ia tampil (muncul) di dunia, niscaya seisi bumi dari barat hingga timur akan mencium wanginya, dan setiap lisan makhluk hidup akan mengucapkan tahlil, tasbih, dan takbir karena terperangah dan terpesona. Dan niscaya antara dua ufuk akan menjadi indah berseri berhias dengannya. Setiap mata akan menjadi buta, sinar mentari akan pudar sebagaimana matahari mengalahkan sinar bintang. Pasti semua yang melihatnya di seluruh muka bumi akan beriman kepada Allah Yang Maha hidup lagi Maha Qayyum.

Permata di kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya. Hasratnya terhadap suami melebihi semua keinginan dan cita-citanya. Tiada hari berlalu melainkan akan semakin menambah keindahan dan kecantikan dirinya. Tiada jarak yang ditempuh melainkan semakin menambah rasa cinta dan hasratnya. Bidadari adalah gadis yang dibebaskan dari kehamilan, melahirkan, haidh dan nifas, disucikan dari ingus, ludah, air seni, dan air tinja, serta semua kotoran.

Masa remajanya tidak akan sirna, keindahan pakaiannya tidak akan usang, kecantikannya tidak akan memudar, hasrat dan nafsunya tidak akan melemah, pandangan matanya hanya tertuju kepada suami, sekali-kali tidak menginginkan yang lain. Begitu pula suami akan selalu tertuju padanya. Bidadarinya adalah puncak dari angan-angan dan nafsunya. Jika ia melihat kepadanya, maka bidadarinya akan membahagiakan dirinya. Jika ia minta kepadanya pasti akan dituruti. Apabila ia tidak di tempat, maka ia akan menjaganya. Suaminya senantiasa dalam dirinya, di manapun berada. Suaminya adalah puncak dari angan-angan dan rasa damainya.

Di samping itu, bidadari ini tidak pernah dijamah sebelumnya, baik oleh bangsa manusia maupun bangsa jin. Setiap kali suami memandangnya maka rasa senang dan suka cita akan memenuhi rongga dadanya. Setiap kali ia ajak bicara maka keindahan intan mutu manikam akan memenuhi pendengarannya. Jika ia muncul maka seisi istana dan tiap kamar di dalamnya akan dipenuhi cahaya.

Jika anda bertanya tentang usianya, maka mereka adalah gadis-gadis remaja yang sebaya dan sedang ranum-ranumnya.
Jika anda bertanya tentang keelokan wajahnya, maka apakah anda telah melihat eloknya matahari dan bulan?!
Jika anda bertanya tentang hitam matanya, maka ia adalah sebaik-baik yang anda saksikan, mata yang putih bersih dengan bulatan hitam bola mata yang begitu pekat menawan.
Jika anda bertanya tentang bentuk fisiknya, maka apakah anda pernah melihat ranting pohon yang paling indah yang pernah anda temukan?

Jika anda bertanya tentang warna kulitnya, maka cerahnya bagaikan batu rubi dan marjan.
Jika anda bertanya tentang elok budinya, maka mereka adalah gadis-gadis yang sangat baik penuh kebajikan, yang menggabungkan antara keindahan wajah dan kesopanan. Maka merekapun dianugerahi kecantikan luar dan dalam. Mereka adalah kebahagiaan jiwa dan penghias mata.

Jika anda bertanya tentang baiknya pergaulan dan pelayanan mereka, maka tidak ada lagi kelezatan selainnya. Mereka adalah gadis-gadis yang sangat dicintai suami karena kebaktian dan pelayanannya yang paripurna, yang hidup seirama dengan suami penuh pesona harmoni dan asmara .

Apa yang anda katakan apabila seorang gadis tertawa di depan suaminya maka sorga yang indah itu menjadi bersinar? Apabila ia berpindah dari satu istana ke istana lainnya, anda akan mengatakan: “Ini matahari yang berpindah-pindah di antara garis edarnya.” Apabila ia bercanda, kejar mengejar dengan suami, duhai… alangkah indahnya…!! (dari kitab Hadil Arwah Ila Biladil Afrah (h.359-360)

Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam bersabda:

1. Hadits Abu Sa’id al-Khudri Rodiallohu `anhu :

« إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً رَجُلٌ صَرَفَ اللّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ قِبَلَ الْجَنَّةِ وَمَثَّلَ لَهُ شَجَرَةً ذَاتَ ظِلٍّ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ قَرِّبْنِي مِنْ هذِهِ الشَّجَرَةِ أَكُونُ فِي ظِلِّهَا ». فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ فِيْ دُخُوْلِهِ الْجَنَّةَ وَتًمًنٍّيْهِ إِلىَ أَنْ قَالَ فِيْ آخِرِهِ.

“Sesungguhnya ahli surga yang paling rendah tingkatannya adalah seseorang yang Allah palingkan wajahnya dari neraka kearah surga, dan ditampakkan padanya satu pohon surga yang rindang. Lalu orang itu berkata: Ya Allah dekatkanlah aku ke pohon itu agar aku bisa berteduh di bawahnya.” Lalu Nabi Sholallohu `alaihi wa sallam terus menyebutkan angan-angan orang itu hingga akhirnya beliau bersabda:

« إِذَا انْقَطَعَتْ بِهِ الأَمَانِيُّ قَالَ اللّهُ: هُوَ لَكَ وَعَشْرَةُ أَمْثَالِهِ. قالَ: ثُمَّ يَدْخُلُ بَيْتَهُ فَتَدْخُلُ عَلَيْهِ زَوْجَتَاهُ مِنَ الحُورِ الْعِينِ فَيَقُولاَنِ : الْحَمْدُ للّهِ الَّذِي أَحْيَاكَ لَنَا وَأَحْيَانَا لَكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُعْطِيتُ ».

“Apabila telah habis angan-angannya maka Allah berfirman kepadanya: “Dia itu milikmu dan ditambah lagi sepuluh kali lipatnya.” Nabi bersabda: “Kemudian ia masuk rumahnya dan masuklah menemuinya dua biadadari surga, lalu keduanya berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanmu untuk kami dan yang menghidupkan kami untukmu. Lalu laki-laki itu berkata: “Tidak ada seorangpun yang dianugerahi seperti yang dianugerahkan kepadaku.” (HR. Muslim: 417)

2. Hadits Anas Rodiallohu `anhu :

« إِنَّ الْحُورَ الْعِينَ لَتُغَنينَ فِي الْجَنَّةِ يَقُلْنَ: نَحْنُ الْحُورُ الْحِسَانِ خُبئْنَا لأَزْوَاجٍ كِرَامٍ »

“Sesungguhnya bidadari nanti akan bernyanyi di surga: Kami para bidadari cantik disembuyikan khusus untuk suami-suami yang mulia.” (Shahih al-Jami’: 1602)

3. Hadits Abu Hurairah Rodiallohu `anhu :

« إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ. وَالَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيَ، فِي السَّمَاءِ، إِضَاءةً. لاَ يَبُولُونَ، وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ وَلاَ يَتْفِلُونَ. أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ. وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ. وَمَجَامِرُهُمُ الألُوَّةُ. وَأَزْوَاجُهُمُ الْحُورُ الْعِينُ. أَخْلاَقُهُمْ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ. سِتُّونَ ذِرَاعاً، فِي السَّمَاءِ ».

“Sesungguhnya kelompok pertama yang masuk surga adalah seperti rupa bulan di malam purnama. Berikutnya adalah seperti binang yang paling terang sinarnya di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak meludah. Sisir mereka dari emas, minyak mereka adalah misik, asapannya adalah kayu gaharu, pasangan mereka adalah bidadari, akhlak mereka seperti akhlak satu orang. Bentuk (postur tubuh) mereka seperti Nabi Adam as; 60 lengan di langit.” (Bukhari, Muslim dll. Al-Jami’ al-Shaghir: 3778, Shahih al-Jami’: 2015)

4. Hadits Abdullah ibnu Mas’ud Rodiallohu `anhu :

« أَوَّلُ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ ضَوْءُ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالْزُّمْرَةُ الثَّانِيَةُ عَلَى لَوْنِ أَحْسَنِ كَوْكَبٍ دُريَ فِي السَّمَاءِ، لِكُل رَجُلٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، عَلَى كُل زَوْجَةٍ سَبْعُونَ حُلَّةً، يُرَىٰ مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ لُحُومِهِمَا وَحُلَلِهِمَا، كَمَا يُرَىٰ الشَّرَابُ الأَحْمَرُ فِي الزُّجَاجَةِ الْبَيْضَاءِ »

“Kelompok pertama kali yang masuk surga, seolah wajah mereka cahaya rembulan di malam purnama. Kelompok kedua seperti bintang kejora yang terbaik di langit. Bagi setiap orang dari ahli surga itu dua bidadari surga. Pada setiap bidadari ada 70 perhiasan. Sumsum kakinya dapat terlihat dari balik daging dan perhiasannya, sebagaimana minuman merah dapat dilihat di gelas putih.” (HR. Thabrani dengan sanad shahih, dan Baihaqi dengan sanad hasan. Hadits hasan, shahih lighairi: Shahih al-Targhib: 3745)
Dalam lafazh Tirmidzi:

« وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوْقِهِمَا منْ وَرَاءِ الَّلحْمِ مِنَ الْحُسْنِ، لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ قُلُوبُهُمْ قَلْبُ رَجُلٍ وَاحِدٍ يُسَبِّحونَ الله بُكْرَةً وَعَشِيَّا » .

“Masing-masing mendapat dua bidadari, sumsum kakinya dapat dilihat dari balik daging karena begitu cantiknya, tidak ada perselisihan di antara mereka, dan tidak ada saling benci di hati mereka. Hati mereka seperti hati satu orang, mereka semua bertasbih kepada Allah pagi dan sore.”

5. Hadits al-Miqdam Ibn Ma’di Karib Rodiallohu `anhu :

« لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سَبْعُ خِصَالٍ: يُغْفَرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دَفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ، وَيَرَىٰ مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُحَلَّىٰ حُلَّةَ الإِيمَانِ، وَيُزَوجُ اثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً مِنَ الْحُورِ الْعِينِ، وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَيَأْمَنُ مِنَ الْفَزَعِ الأَكْبَرِ، وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ، الْيَاقُوتَةُ مِنْهُ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَيَشْفَعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَاناً مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ »

“Orang yang mati syahid memiliki 7 [yang benar 8] keistimewaan di sisi Allah: (1) diampuni dosanya di awal kucuran darahnya, (2) melihat tempat duduknya dari surga, (3) dihiasi dengan perhiasan iman, (4) dinikahkan dengan 72 bidadari surga, (5) diamankan dari adzab kubur, (6) aman dari goncangan dahsyat di hari qiamat, (7) diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan; satu permata dari padanya lebih baik dari pada dunia seisinya, (8) memberi syafaat kepada 70 orang dari kerabatnya.” (Ahmad, Tirmidzi dan Baihaqi. Silsilah al-Shahihah: 3213, Shahih al-Jami’: 5182)

6. Hadits Mu’adz ibn Anas Rodiallohu `anhu ;

« مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّه سُبْحَانَهُ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُورِ الْعينِ مَا شَاءَ ».

“Barangsiapa mampu menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah memanggilnya di hadapan para makhluk hingga Dia memberikan hak untuk memilih yang ia suka dari bidadari.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, hadits hasan. Lihat Shahih al-Jami’: 6518)
7. Hadits Mu’adz t;

« لاَ تُؤْذِي امْرَأةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا. إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ: لاَ تُؤْذِيهِ، قَاتَلَكِ الله، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَك دَخِيلٌ يُوشِكَ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا »

“Tidak ada seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia melainkan bidadari yang menjadi pasangannya berkata: “Jangan engkau sakiti dia -semoga Allah melaknatmu- sesungguhnya ia hanyalah bertamu (di rumahmu), hampir saja ia berpisah meninggalkanmu menuju kami.” (Shahih al-Jami’: 7192)

maka utamakanlah akhirat

sumber

Tinggalkan komentar »

Ya اَللّهُ, Mengapa wanita sering menangis?

Jwbnya: Kerana wanita itu unik.
Aku ciptakan ia sbg makhluk istimewa,
KU kuatkan bahunya utk menjaga anak2nya,
KU lembutkan hatinya utk memberi rasa aman,
KU kuatkan rahimnya utk menyimpan benih manusia,
KU teguhkan peribadinya utk terus berjuang saat yg lain menyerah,
KU beri dia naluri utk mencintai anak2 dlm keadaan apapun,
KU kuatkan batinnya utk ttp menyayangi walau dikhianati oleh teman,
walau disakiti oleh “orang” yang ia sayangi
Wanita mahluk kuat,
tapi jika satu saat dia menangis itu kerana KU beri dia air mata utk membasuh luka batin dan memberi kekuatan baru.

“WANITA itu ISTIMEWA”

Tinggalkan komentar »

KETIKA PERASAAN ITU BEGITU MENUSUK

Saudara-Saudariku memperjuangkan cinta ini hanya memiliki dua pilihan:

1. Bersungguh-sungguh mengembalikannya (mundur melupakannya)

2. Bersungguh-sungguh memperjuangkannya (maju menikahinya)
Maka, jalan mana yang kan engkau ya saudara-saudari pilih saat ini?

Saya yakin saudara-saudariku sudah pintar menentukan pilihan. Ya, memperjuangkannya itu bukan setengah hati, bukan setengah ikhtiyar, dan bukan setengah tawakkal. Akan tetapi engkau harus bersungguh-sungguh memperjuangkannya.

Saudara-Saudariku, memang tidak mudah untuk mengatasi “rasa” itu hadir dalam diri kita. Karena secara fitrah setiap manusia dikaruniai perasaan sayang terhadap lawan jenis. Dan saya-pun pernah merasakan perasaan aneh itu. Pernah merasakan sakitnya ketika dia yang kita kagumi ternyata lebih memilih orang lain untuk menjadi pendampingnya.

Ah.., tapi memang benar akan selalu ada hikmah dari setiap kisah yang kita alami, dan ternyata hal itu justru membuat saya lebih mencintai-NYA. Dan prinsip saya tak kan pernah berubah, tidak ada istilah pacaran sebelum pernikahan dan cinta istimewa itu hanya untuk istri saya ..

Saudara-Saudariku.., jagalah hati dan dirimu.., jangan sampai engkau dikalahkan oleh nafsumu.

Tinggalkan komentar »

CINTA & KASIH IBU SEPANJANG JALAN

“Ibu” yah, peranan dan andilnya dalam hidup kita memang perlu

dibanggakan, karena cintanya tak pernah lekang oleh waktu. Sembilan bulan

lamanya kita semua pernah berada di dalam kandungan seorang ibu, baik itu bayi

tabung atau bukan. Semuanya itu tanpa terkecuali pasti pernah merasakan hidup di

dalam rahim seorang ibu.

Pada kurun waktu tersebut rahim seorang ibu dapat menjadi dunia, rumah,

tempat tidur, dapur, WC (Water Close), dan segalanya bagi kita. Di dalam rahim

itu kita tak pernah kedinginan atau kepanasan karena rahim ibu mampu menjadi

selimut hangat bagi kita. Suasananya amat nyaman dan aman. Tuhan menciptakan

rahim yang luar biasa elastisnya sehingga kita dapat tumbuh dan berkembang

di dalamnya. Di dalam rahim, kita tetap bisa bernafas lewat tali pusar si ibu dan

dengan setianya si ibu membawa kita kemana-mana walaupun terasa sangat berat,

dan dengan terus-menerus melindungi kita dengan kenyamanan, keamanan, dan

keselamatan kita. Cintanya memang tak dapat diukur dengan pertimbangan apa

Saat ibu makan sesuatu apa pun itu, kita pasti mendapatkan bagiannya.

Si ibu sadar benar, bahwa dia harus melakukan banyak pantangan, agar kita

dapat menikmati makanan yang sehat.

maka habislah riwayat kita sebagai si jabang bayi. Di dalam rahim seorang ibu

pulalah kita makan dan membuang kotoran, lewat tali pusar ibu. Hidup si ibu benar-

benar diperuntukkan bagi kita. Dia bahkan hanya memikirkan kehidupan kita, agar

nantinya kita dapat terlahir hidup dan dalam keadaan sehat.

Di dalam rahim seorang ibu kadang-kadang kita bergerak secara tiba-tiba,

menggerakkan tangan dan kaki, seakan-akan kita ingin cepat-cepat lahir ke dunia.

Sebab jika si ibu sampai salah makan

Jika itu terjadi, si ibu akan segera mengelus-elus perutnya dengan sentuhan lembut,

agar kita tetap sabar sampai tiba waktunya kelahiran secara alamiah. Elusan tangan

si ibu sungguh-sungguh dapat menenangkan kita, karena elusan itu dilakukannya

dengan penuh cinta, dan dengan kasih sayang lebih. Kita memang hidup dari

Sebelum kelahiran kita, si ibu berusaha menyiapkan segala sesuatunya.

Si ibu membelikan pakaian bayi untuk kita, dot, mainan, dan apa saja yang kita

butuhkan dan dapat membuat kita siap bertahan hidup di luar kandungannya. Pada

waktu tiba hari kelahiran kita, si ibu harus mengalami saat-saat genting dalam

hidupnya. Bukan hanya rasa sakit yang luar biasa yang harus ditanggungnya,

melainkan nyawalah taruhannya. Setiap kelahiran menjadi saat-saat hidup dan mati

bagi si ibu. Namun ketika si ibu melihat kita lahir dengan selamat dan menangis

dengan keras, segala kesakitan juga saat-saat genting itu semua dilupakan.

Seorang ibu akan tersenyum manis memandang kita dengan kelegaan yang besar

dan cintanya yang tulus. Bahkan di tengah-tengah rasa sakitnya, dia berusaha

melihat wajah kita, anak yang ditunggu-tunggu dan dicintainya. Si ibu tetap melihat,

bahwa kita adalah daging dari dagingnya, darah dari darahnya, dan tulang dari

Si ibu sadar sepenuhnya, bahwa kita masih tidak berdaya, maka cintanya

dicurahkan kepada kita. Perhatiannya tak kunjung usai pada kita. Cinta dan

pengorbanannya tanpa perhitungan dan tanpa pamrih. Kini pekerjaan ibu semakin

bertambah berat, karena harus menyusui, memandikan, dan sebentar-bentar

mengganti popok kita, apalagi jika si ibu adalah wanita karir.

Setiap hari si ibu biasanya selalu menyempatkan diri untuk menggendong

kita, mengajak kita untuk bercengkrama, dan membuat kita tertawa. Di pangkuan

ibulah kita diajarkan untuk berbicara, menyebut kata-kata pertama, “Mama… Papa..”

dan si ibu selalu berusaha untuk merawat kita dengan sangat baik.

Dari hari ke hari kita mulai tumbuh besar dan sehat. Si ibu mulai menuntun

kita untuk mulai berjalan setapak demi setapak, sampai akhirnya kita dapat berjalan,

bahkan kita dapat berlarian kesana dan kemari sendiri tanpa bantuannya lagi. Hal itu

tak pernah lepas dari perhatian yang penuh cinta dan kasih sayang seorang ibu.

Ketika sudah waktunya kita untuk masuk TK, tugas si ibu bertambah lagi

yaitu mulai memandikan kita, mendandani kita, memakaikan kita seragam sekolah,

menyediakan sarapan dan menyiapkan bekal serta minuman untuk kita bawa ke

sekolah. Seorang ibu memang tak pernah mengenal lelah. Itulah sebuah ungkapan

cinta yang nyata dari seorang ibu pada kita.

Saat kita telah menginjak masa remaja pun, perhatian si ibu tidak pernah

surut. Si ibu tetap akan berjuang keras untuk masa depan kita. Beliau akan

selalu memberikan yang terbaik buat kita. Bahkan memilihkan sekolah yang

terbaik pula buat kita walaupun biaya sekolah tersebut amat mahal, tetapi si ibu

selalu berkata, “Biarlah, tak apa-apa asalkan anakku mendapatkan sekolah dan

mendapatkan pendidikan yang baik dan bermutu.” Itulah cinta ibu memang tak akan

pernah surut oleh keadaan apa pun.

Bahkan saat kita jatuh sakit, upaya apa pun akan dilakukannya, asalkan kita

dapat sembuh. Kadang-kadang si ibu harus mengorbankan segala kepentingan

dan pekerjaannya hanya untuk merawat kita. Tabungannya harus diambil, kegiatan-

kegiatan rutinitasnya harus dinomorduakan, asalkan kita dapat sembuh. Saat kita

sembuh, lihatlah kegembiraan yang benar-benar terpancar terang dari wajah si ibu.

Itulah cinta seorang ibu, cintanya benar-benar murni.

Saat kita menginjak masa pubertas, perhatian si ibu akan lebih besar lagi,

apalagi jika kita adalah seorang anak perempuan. Biasanya si ibu lebih sedikit

over protective terhadap kita tetapi sebenarnya si ibu tidak bermaksud untuk

mengambil kebebasan kita melainkan untuk melindungi kita dari hal-hal buruk yang

mungkin akan terjadi pada kita. Namun tanggapan kita adalah merasa diawasi,

diikuti kemanapun kita pergi, dikekang, dikendalikan, dan lain sebagainya. Kadang

reaksi kita terhadap hal tersebut sedikit mengejutkan, seperti kita berani membolos

sekolah, pergi bermain dengan teman-teman secara diam-diam, mencoba hal-hal

baru secara diam-diam, bahkan minggat dari rumah karena merasa dikekang tetapi

si ibu akan tetap mencari kita sampai kemana pun, sampai si ibu mendapatkan kita

Kadang jika si ibu berbuat salah, walaupun itu sebuah kesalahan kecil,

biasanya kita cenderung memberi cap-cap tertentu pada si ibu, misalnya, “Cerewet,

suka mengatur, suka marah-marah, dan lain sebagainya.” Pada saat-saat seperti

itu kita benar-benar lupa bahkan tidak tahu akan jasa si ibu dulu yang dengan tekun

dan kesabarannya mengajari berbicara untuk mengucapkan kata-kata pertama

dengan penuh cinta, “Mama..”, namun lihatlah, cinta si ibu tidak akan pernah luntur

karenanya. Ibu akan selalu meminta maaf jika itu adalah sebuah kesalahannya.

Karena si ibu tidak ingin kita membencinya karena hal sepele.

Waktu semakin berlalu, si ibu lama-kelamaan menjadi semakin tua dan

lemah, tetapi cintanya tak akan pernah lekang dan lapuk oleh waktu. Walaupun

kita nanti akan membangun rumah tangga kita sendiri, dan ini berarti kita akan

pergi meninggalkannya, tetapi doa seorang ibu akan selalu mengiringi kita, dan

memberikan doa restunya pada kita dan pada orang yang kita cintai, itu semua

dilakukannya semata-mata demi kebahagiaan kita. Itulah seorang ibu dengan kasih

yang tak ada ujungnya dan kasihnya memang sepanjang jalan.

Tinggalkan komentar »

Kisah Nyata ( Siti Penjual Bakso berusia 7 Tahun )

Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena… ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.

Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.

Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.

Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.

Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat jualan bakso keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.

Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.

 

Tinggalkan komentar »

Sifat Malu Kaum Wanita

Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.

Apa sih sifat malu itu? Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”

Abu Qasim Al-Junaid mendefinisikan dengan kalimat, “Sifat malu adalah melihat nikmat dan karunia sekaligus melihat kekurangan diri, yang akhirnya muncul dari keduanya suasana jiwa yang disebut dengan malu kepada Sang Pemberi Rezeki.”

Ada tiga jenis sifat malu, yaitu:

1. Malu yang bersifat fitrah. Misalnya, malu yang dialami saat melihat gambar seronok, atau wajah yang memerah karena malu mendengar ucapan jorok.

2. Malu yang bersumber dari iman. Misalnya, seorang muslim menghindari berbuat maksiat karena malu atas muraqabatullah (pantauan Allah).

3. Malu yang muncul dari dalam jiwa. Misalnya, perasaan yang menganggap tidak malu seperti telanjang di hadapan orang banyak.

Karena itu, beruntunglah orang yang punya rasa malu. Kata Ali bin Abi Thalib, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”

Bahkan, Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)

Dari hadits itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah swt. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman.

Tentang kesejajaran sifat malu dan iman dipertegas lagi oleh Rasulullah saw., “Malu dan iman keduanya sejajar bersama. Ketika salah satu dari keduanya diangkat, maka yang lain pun terangkat.” (HR. Hakim dari Ibnu Umar. Menurut Hakim, hadits ini shahih dengan dua syarat-syarat Bukhari dan Muslim dalam Syu’ban Iman. As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shagir menilai hadits ini lemah.)

Karena itu, sifat malu tidak akan mendatangkan kemudharatan. Sifat ini membawa kebaikan bagi pemiliknya. “Al-hayaa-u laa ya’tii illa bi khairin, sifat malu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Adab, hadits nomor 5652)

Dengan kata lain, seseorang yang kehilangan sifat malunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai. Tidak bisa kita bayangkan jika dari mulut seorang muslimah meluncur kata-kata kotor lagi kasar. Bertingkah dengan penampilan seronok dan bermuka tebal. Tentu bagi dia surga jauh. Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)

Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat malu. Dari mana sebenarnya energi sifat malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah. Sifat malu akan muncul dalam diri kita jika kita menghayati betul bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Allah itu Maha Melihat. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui oleh Allah swt.

Jadi, sumber sifat malu adalah muraqabatullah. Sifat itu hadir setika kita merasa di bawah pantauan Allah swt. Dengan kata lain, ketika kita dalam kondisi ihsan, sifat malu ada dalam diri kita. Apa itu ihsan? “Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu,” begitu jawaban Rasulullah saw. atas pertanyaan Jibril tentang ihsan.

Itulah sifat malu yang sesungguhnya. Sebagaimana yang sampai kepada kita melalui Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Kami berkata, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu.” Beliau berkata, “Bukan itu yang aku maksud. Tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah, hadits nomor 2382)

Ingat! Malu. Bukan pemalu. Pemalu (khajal) adalah penyakit jiwa dan lemah kepribadian akibat rasa malu yang berlebihan. Sebab, sifat malu tidaklah menghalangi seorang muslimah untuk tampil menyuarakan kebenaran. Sifat malu juga tidak menghambat seorang muslimah untuk belajar dan mencari ilmu. Contohlah Ummu Sulaim Al-Anshariyah.

Dari Zainab binti Abi Salamah, dari Ummu Salamah Ummu Mukminin berkata, “Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, menemui Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi bila bermimpi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, bila ia melihat air (keluar dari kemaluannya karena mimpi).’” (HR. Bukhari dalam Kitab Ghusl, hadits nomor 273)

Saat ini banyak muslimah yang salah menempatkan rasa malu. Apalagi situasi pergaulan pria-wanita saat ini begitu ikhtilath (campur baur). Ketika ada lelaki yang menyentuh atau mengulurkan tangan mengajak salaman, seorang muslimah dengan ringan menyambutnya. Ketika kita tanya, mereka menjawab, “Saya malu menolaknya.” Bagaimana jika cara bersalamannya dengan bentuk cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri)? “Ya abis gimana lagi. Ntar dibilang gak gaul. Kan tengsin (malu)!”

Bahkan ketika dilecehkan oleh tangan-tangan jahil di kendaraan umum, tidak sedikit muslimah yang diam tak bersuara. Ketika kita tanya kenapa tidak berteriak atau menghardik lelaki jahil itu, jawabnya, sekali lagi, saya malu.

Jelas itu penempatan rasa malu yang salah. Tapi, anehnya tidak sedikit muslimah yang lupa akan rasa malu saat mengenakan rok mini. Betul kepala ditutupi oleh jilbab kecil, tapi busana ketat yang diapai menonjolkan lekak-lekut tubuh. Betul mereka berpakaian, tapi hakikatnya telanjang. Jika dulu underwear adalah busana sangat pribadi, kini menjadi bagian gaya yang setiap orang bisa lihat tanpa rona merah di pipi.

Begitulah jika urat malu sudah hilang. “Idza lam tastahyii fashna’ maa syi’ta, bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225).

Ada tiga pemahaman atas sabda Rasulullah itu. Pertama, berupa ancaman. “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushhdilat: 40).

Kedua, perkataan Nabi itu memberitakan tentang kondisi orang yang tidak punya malu. Mereka bisa melakukan apa saja karena tidak punya standar moral. Tidak punya aturan.

Ketiga, hadits ini berisi perintah Rasulullah saw. kepada kita untuk bersikap wara’. Jadi, kita menangkap makna yang tersirat bahwa Rasulullah berkata, apa kamu tidak malu melakukannya? Kalau malu, menghindarlah!

Salman Al-Farisi punya pemahaman lain lagi tentang hadits itu. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila hendak membinasakan seorang hamba, maka Ia mencabut darinya rasa malu. Bila rasa malu telah dicabut, maka engkau tidak akan menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai. Bila engkau tidak menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai, maka dicabutlah pula darinya sifat amanah. Bila sifat amanah itu dicabut darinya, maka engkau tidak akan menjumpainya selain sebagai pengkhianat dan dikhianati. Bila engkau tak menemuinya selain pengkhianat dan dikhianati, maka rahmat Allah akan dicabut darinya. Bila rahmat itu dicabut darinya, maka engakau tidak akan menemukannya selain sosok pengutuk dan dikutuk. Bila engkau tidak menemukannya selain sebagai pengkutuk dan dikutuk, maka dicabutlah darinya ikatan Islam,” begitu kata Salman. (HR. Ibnu Majah dalam Kitab Fitan, hadits nomor 4044, sanadnya lemah, tapi shahih)

Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Sifat malu tampak pada cara dia berbusana. Ia menggunakan busana takwa, yaitu busana yang menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat seorang wanita di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.

Ibnu Katsir berkata, “Pada zaman jahiliyah dahulu, sebagian kaum wanitanya berjalan di tengah kaum lelaki dengan belahan dada tanpa penutup. Dan mungkin saja mereka juga memperlihatkan leher, rambut, dan telinga mereka. Maka Allah memerintahkan wanita muslimah agar menutupi bagian-bagian tersebut.”

Menundukkan pandangan juga bagian dari rasa malu. Sebab, mata memiliki sejuta bahasa. Kerlingan, tatapan sendu, dan isyarat lainnya yang membuat berjuta rasa di dada seorang lelaki. Setiap wanita memiliki pandangan mata yang setajam anak panah dan setiap lelaki paham akan pesan yang dimaksud oleh pandangan itu. Karena itu, Allah swt. memerintahahkan kepada lelaki dan wanita untuk menundukkan sebagaian pandangan mereka.

Memang realitas kekinian tidak bisa kita pungkiri. Kaum wanita saat ini beraktivitas di sektor publik, baik sebagai profesional ataupun aktivis sosial-politik. Ada yang dengan alasan untuk melayani kepentingan sesama wanita yang fitri. Ada juga yang karena keterpaksaan. Tidak sedikit wanita harus bekerja karena ia adalah tulang punggung keluarganya. Sehingga, ikhtilath (bercampur baur dengan lelaki) tidak bisa terhindari.

Untuk yang satu ini, mari kita kutip pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi, “Saya ingin mengatakan di sini bahwa kata ikhtilath dalam hal hubungan antara lelaki dan wanita adalah kata diadopsi ke dalam kamus Islam yang tidak dikenal oleh warisan budaya kita pada sejarah abad-abad sebelumnya, dan tidak diketahui selain pada masa ini. Mungkin saja ia berasal dari bahasa asing, hal itu memiliki isyarat yang tidak menenteramkan hati setiap muslim. Yang lebih cocok mungkin bisa menggunakan kata liqa’ atau muqabalah –keduanya berarti pertemuan—atau musyarakah (keterlibatan) seorang lelaki dan wanita, dan sebagainya. Yang jelas, Islam tidak mengeluarkan aturan atau hukum umum terkait dengan masalah ini. Namun hanya melihat tujuan adanya aktivitas tersebut atau maslahat yang mungkin terjadi dan bahaya yang dikhawatirkan, gambaran yang utuh dengannya, dan syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalamnya.”

Ada adab yang harus ditegakkan kala terjadi muqabalah antara pria dan wanita. Adab-adab itu adalah:

1. Ada pembatasan tempat pertemuan
2. Menjaga pandangan dengan menundukkan sebagian pandangan
3. Tidak berjabat tangan dalam situasi apa pun dengan yang bukan muhrimnya
4. Hindari berdesak-desakan dan lakukan pembedaan tempat bagi lelaki dan wanita
5. Tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis)
6. Hindari tempat-tempat yang meragukan dan bisa menimbulkan fitnah
7. Hindari pertemuan yang lama dan sering, sebab bisa melemahkan sifat malu dan menggoyahkan keteguhan jiwa
8. Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa dan keinginan batin untuk melakukan yang haram, ataupun membayangkannya

Khusus bagi wanita, pakailah pakaian yang yang sesuai syariat, tidak memakai wewangian, batasi diri dalam berbicara dan menatap, serta jaga kewibawaan dan beraktivitas. Perhatikan gaya bicara. Jangan genit!

Dengan begitu jelaslah bahwa Islam tidak mengekang wanita. Wanita bisa terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berpolitik, dan berbagai aktivitas lainnya. Islam hanya memberi frame dengan adab dan etika. Sifat malu adalah salah satu frame yang harus dijaga oleh setiap wanita muslimah yang meyakini bahwa Allah swt. melihat setiap polah dan desiran hati yang tersimpan dalam dadanya

Tinggalkan komentar »

Kewajiban suami

Apa saja kewajiban suami, berkaitan dengan berbuat baik pada istri dan kewajiban nafkah, akan diulas secara sederhana dalam tulisan kali ini. Moga dengan mengetahui hal ini pasutri semakin lekat kecintaannya, tidak penuh ego dan semoga hubungan mesra tetap langgeng.
Pertama: Bergaul dengan istri dengan cara yang ma’ruf (baik)
Yang dimaksud di sini adalah bergaul dengan baik, tidak menyakiti, tidak menangguhkan hak istri padahal mampu, serta menampakkan wajah manis dan ceria di hadapan istri.
Allah Ta’ala berfirman,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
“Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang  paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)
Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri. Nah, setelah ini akan kami utarakan berbagai bentuk berbuat baik kepada istri. Penjelasan ini diperinci satu demi satu agar lebih diperhatikan para suami.
Kedua: Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal dengan baik
Yang dimaksud nafkah adalah harta yang dikeluarkan oleh suami untuk istri dan anak-anaknya berupa makanana, pakaian, tempat tinggal dan hal lainnya. Nafkah seperti ini adalah kewajiban suami berdasarkan dalil Al Qur’an, hadits, ijma’ dan logika.
Dalil Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya” (QS. Ath Tholaq: 7).
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Bapak dari si anak punya kewajiban dengan cara yang ma’ruf (baik) memberi nafkah pada ibu si anak, termasuk pula dalam hal pakaian. Yang dimaksud dengan cara yang ma’ruf adalah dengan memperhatikan kebiasaan masyarakatnya tanpa bersikap berlebih-lebihan dan tidak pula pelit. Hendaklah ia memberi nafkah sesuai kemampuannya dan yang mudah untuknya, serta bersikap pertengahan dan hemat” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 375).
Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika haji wada’,
فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, karena kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kewajiban istri bagi kalian adalah tidak boleh permadani kalian ditempati oleh seorang pun yang kalian tidak sukai. Jika mereka melakukan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakiti. Kewajiban kalian bagi istri kalian adalah memberi mereka nafkah dan pakaian dengan cara yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1218).
Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).
Lalu berapa besar nafkah yang menjadi kewajiban suami?
Disebutkan dalam ayat,
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. Ath Tholaq: 7).
عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ
“Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula)” (QS. Al Baqarah: 236).
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hindun,
خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
“Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa yang jadi patokan dalam hal nafkah:
Mencukupi istri dan anak dengan baik, ini berbeda tergantung keadaan, tempat dan zaman.
Dilihat dari kemampuan suami, apakah ia termasuk orang yang dilapangkan dalam rizki ataukah tidak.
Termasuk dalam hal nafkah adalah untuk urusan pakaian dan tempat tinggal bagi istri. Patokannya adalah dua hal yang disebutkan di atas.
Mencari nafkah bagi suami adalah suatu kewajiban dan jalan meraih pahala. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah menunaikan tugas yang mulia ini.
Masih ada beberapa hal terkait kewajiban suami yang belum dibahas. Insya Allah akan berlanjut pada tulisan berikutnya.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 3: 197-204
Sumber: www.rumaysho.com

Tinggalkan komentar »

Wanita… Andai Kau Sadar Betapa Mahalnya Dirimu…

Kisah serigala lain. Ia adalah laki-laki bejat dan suka bermain-main. Ia mengetahui bahwa tidak jauh dari rumahnya terdapat seorang gadis yang sempurna dari sisi kepemilikan harta, kebahagiaan, kemewahan, dan kesejahteraan hidup. Ia menatap gadis itu dengan pandangan pertama, ia pun terpikat dengannya sehingga ia berkali-kali memandangi dirinya. Maka, pandangannya pun sampai di hati si gadis. Akhirnya, mereka saling berkirim surat, lalu saling bertemu, kemudian berpisah.

Kisah mereka berdua berakhir seperti halnya kisah-kisah asmara lain yang diperankan anak cucu adam di atas pentas dunia ini. Kini, gadis itu menangggung duka nestapa di hati dan janin yang di dalam perutnya. Pada mulanya, ia bisa menyembunyikan kehamilan itu, namun selanjutnya berita kehamilannya tersebar luas. Meski dadanya masih lapang, namun tidak begitu dengan perutnya. Meski hari ini janin itu bisa disembunyikan, namun tidak dengan keesokan harinya.

Saat duka membuatnya sulit tidur di malam hari, ia pun berpikir harus melarikan diri dan menyelamatkan kehidupannya. Ia pun menyusuri malam demi malam yang gelap gulita. Ia lemparkan dirinya ke dalam lautan malam yang hitam. Ombaknya terus mengombang-ambingkan dan melemparnya ke sana ke mari hingga menghempaskannya ke tepian pagi. Akhirnya, ia sampai di sebuah ruangan tidak berpenghuni di salah satu rumah yang sudah rapuh di salah satu perkampungan yang tidak dikenal. Ia seorang diri di ruangan itu tanpa kawan yang menemani selain kedukaannya.

Roda kehidupan pun berputar. Roda yang tidak bisa kita hentikan dengan cara apa pun. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?

Masyarakat memaafkan serigala itu, menerima taubatnya, melupakan kesalahannya, dan ia bekerja sebagai anggota hakim. Sementara wanita yang malang itu melahirkan anaknya di tengah ruangan yang hampir runtuh. Ia menjual seluruh harta yang ia miliki dan yang dikenakan di badannya, seperti perhiasan dan pakaian. Hingga saat malam tiba, wanita itu mengenakan sobekan kain untuk menutupi wajahnya dan memakai sarung, kemudian berkeliling di jalanan kota dan melintasi jalanan tanpa tujuan selain melarikan diri dari duka yang senantiasa menemaninya.

Pada suatu malam, seorang pria melintasinya dan menuduhnya mengambil dompetnya. Wanita itu kemudian dilaporkan ke pengadilan.
Tibalah hari persidangan.

Wanita itu dibawa ke pengadilan dengan menggendong putrinya yang telah berusia tujuh tahun. Hakim mencermati berbagai kasus persidangan dan menjatuhkan putusannya. Lalu, saat giliran wanita itu untuk berbicara tiba, hakim itu tidak melemparkan pandangannya pada si wanita. Wanita itu sendiri yang kaget setelah melihat wajah si hakim. Ia mulai bingung, terlihat tanda risau dan bimbang yang hampir melenyapkan kesadarannya, karena ia mengenal siapa hakim itu. Dialah pemuda yang menyebabkannya menderita.

Wanita itu menatapnya dengan pandangan marah, kemudian berkata lantang yang menggema di ruangan persidangan,

” رويدك أيها القاضي، ليس لك أن تكون حكماً في قضيتي فكلانا سارق، وكلانا خائن، والخائن لا يقضي علي الخائن ، واللص لا يصلح أن يكون قاضياً بين اللصوص”

“Tunggu dulu Wahai Hakim! Anda tidak layak menjadi pengadil untuk memutuskan kasus saya karena kita sama-sama pencuri. Kita sama-sama pengkhianat. Pengkhianat tidak bisa menghakimi sesama pengkhianat. Tidak layak seorang pencuri (kehormatan –pen) menjadi hakim yang memutuskan perkara sesama pencuri (harta -pen).”

Hakim dan orang-orang yang hadir kaget karena pandangan aneh itu. Ia lalu memanggil polisi agar mengeluarkan wanita tersebut. Si wanita segera membuka kain penutup mukanya. Setelah itu, Hakim lantas memperhatikannya dengan pandangan yang mengisyaratkan banyak hal.

Gadis itu kembali meneruskan kata-katanya,

“Aku mencuri uang, sedangkan Anda mencuri kehormatan. Padahal, kehormatan itu lebih mahal dari harta. Kejahatan Anda lebih besar dari kejahatan saya dan lebih besar dosanya. Orang yang dicuri hartanya bisa menghibur diri, barangkali uang itu kembali atau mendapat ganti. Sementara gadis yang dicuri kehormatannya tidak ada yang bisa menghibur dirinya. Sebab, kehormatannya telah hilang dan tidak akan kembali lagi. Andai bukan karena Anda, tentu aku tidak mencuri dan tentu aku tidak menjadi seperti ini. Berikan kursi Anda untuk orang lain, dan silakan berdiri di samping saya agar pengadilan menghukumi kita atas kejahatan yang sama. Anda yang merencanakannya, sedangkan saya yang melakukannya. Saat Anda memasuki tempat ini, saya melihat dan mendengar petugas meneriakkan kedatangan Anda, orang-orang pun berdiri untuk Anda. Namun, saat saya memasuki ruangan ini, saya melihat seluruh pasang mata tertuju pada saya dan seluruh hati meremehkan saya.

Saya berkata dalam hati, “Aneh sekali betapa banyaknya lencana berdusta. Betapa banyaknya “gelar” menipu. Anda membawa saya ke sini untuk memenjarakan saya? Apa belum cukup kesengsaraan yang Anda timpakan pada diri saya hingga Anda kembali ingin menimpakan kesengsaraan tanpa alasan yang benar. Bukankah Anda manusia sehingga bisa merasakan kesengsaraan dan derita saya?

Bila saya tidak memiliki hubungan dengan Anda, maka perantara saya dan Anda adalah putri Anda ini. Inilah tali penghubung yang masih tersisa di antara saya dan Anda.”

Saat itulah si serigala –maaf- si hakim mengangkat kepala dan menatap putri kecilnya. Ia mengatakan bahwa wanita itu gila, harus dibawa ke dokter. Para hadirin memercayai kata-katanya. Kemudian, hakim itu pergi meninggalkan persidangan. Ya Allah…
عوى الذئب فاستأنست بالذئب إذ عوى

وصـوت إنـسان فكدت أطـير

Seekor serigala melolong

Aku merasa senang saat hewan itu melolong

Sedang suara manusia membuatku hampir terbang…

Wahai saudariku, jadilah sosok yang terlalu agung untuk menjadi korban serigala manusia yang gemar merenggut barang paling berharga yang Anda milki, sedangkan Anda tidak mendapatkan apa pun darinya.

Wahai saudariku, tutuplah seluruh pintu fitnah. Tutup rapat-rapat seluruh pintu syubhat dan ingatlah selalu bahwa gadis yang terpercaya sangat mahal harganya. Bila ia berkhianat, akan terhina. Ingatlah selalu, betapa banyak gadis yang gigit jari karena menyesal dan keluarganya pun menyembunyikan diri dari pandangan orang karena harga dirinya tercemar. Namun, kenyataannya jauh sekali, peristiwa itu tetap saja terjadi. Ini dikarenakan ia melupakan akal sehat dan Rabb-nya, tenggelam dalam kisah asmara, puisi cinta, lembaran-lembaran majalah, telepon, televisi, terlena saat melihat serigala lapar atau lelaki bermulut manis[*].

Saudariku, waspadailah lelaki yang menggambarkan kehidupan sebagai cinta di atas cinta, asmara di atas asmara, kerinduan di atas kerinduan. Mereka beranggapan, kehidupan tidak akan berjalan dan tidak sehat tanpa cinta. Dengan dasar inilah mereka berteriak, “Harus ada jalinan cinta suci antara pemuda dan pemudi”. Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

{ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا * وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى}

… Maka, janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan, hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlil bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

(Al-Ahzab: 32-33)

Cinta macam apa yang mereka katakan itu? Kemuliaan macam apa yang mereka teriakkan? Allah ta’ala berfirman,
قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“…. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)”

Cinta suci yang mereka katakan itu tidak lain adalah syahwat yang tidak terlampiaskan dan keinginan yang tidak terwujud. Di balik semua itu adalah angan-angan, kesesatan, dusta, dan penipuan jiwa. Cinta antara pemuda dan pemudi hanyalah dusta belaka, pasarnya hanya diramaikan oleh orang-orang gila, para remaja, orang-orang rendah dan liar.

Sebagai penutup, wahai saudariku…

Letakkanlah harga diri dan kemuliaanmu serta kemuliaan keluargamu di antara kedua matamu, niscaya kau akan tahu cara menangkal berbagai jenis setan.

Lelaki paling bejat dan paling berani berbuat keburukan pun, pasti sembunyi bila melihat ada gadis yang berhijab rapat di hadapannya. Sebab, si gadis pandangannya lurus, berjalan dengan langkah pasti, kuat dan mantap, tidak menoleh ke sana ke mari seperti orang takut, dan tidak bergerak seperti pemalu.

Pada saat itulah sang serigala akan melepaskan bulu kebuasannya, kemudian turun dari atas tebing bertaubat dan meminta ampun. Ia akan mendatangi pintu secara halal, menjadi pemuda di tengah-tengah keluarganya. Bahkan, ia akan meminta pertolongan pada orang-orang shalih agar membantunya saat menghadap ayah sang gadis itu supaya mereka memuji agama dan akhlaknya. Cukuplah agama dan akhlak menjadi pujian bagi setiap orang. Dan cukuplah kehinaan dan tipuan sebagai sandaran celaan yang mana harus dihindari oleh setiap orang. Saat itulah saudari bisa menikah dengan mendapat ciuman anggota keluarga, air mata bahagia sang ibu dan kasih sayang ayah, kepala tegak (tidak tertunduk hina) dan Anda pun menjadi mulia, menuju rumah keagungan dan kemuliaan.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala berkenan menjaga kemaluan Anda, membersihkan hati Anda, dan memuliakan Anda dengan menaati-nya, wahai mutiara yang terpelihara dan permata yang tersimpan.

“سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك “

Maha suci Engkau ya Allah dan aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan bertaubat kepadamu.

***

(dari bagian akhir kitab أخطاء النساء المتعلقة بالحب المحرم, karya الشيخ ندا أبو أحمد)

[*] Dan yang tidak kalah bahayanya adalah facebook. Andai para muslimah menutup dirinya, niscaya itu lebih baik baginya.

Sumber : http://al-ashree.com/artikel/betapa-mahal-wanita/

Tinggalkan komentar »

Yang sedang bersedih hati dirundung cinta, semoga ini bisa menyejukkan

“HARI GINIE.. masih sakit Hati ?, apa kata dunia& akheraaaaat bRowww!!!
[Don’t be GALAU’ers,,Be Strong!
coz you’re MOSLEM,,,the best UMMAH
INSHA ALLAH]

Brother & Sister in Dien..
Engkau tidak akan pernah menjadi orang besar jika hanya hanya berbahagia dengan kemenangan kemenangan kecil. Engkau tidak akan pernah menjadi dewasa jika masih bersedih dengan kekalahan kekalahan kecil..

Kecil dunia ini brother!
Kemenangan dan Kekalahan, dan semua peristiwa diatasnya adalah hal hal kecil.
Peristiwa peristiwa dahsyat sesungguhnya belum kita lewati. Perjalanan ruh kita baru saja singgah di dunia, hanya singgah sesaat dan segera menuju alam lain. Dimana kematian adalah jembatannya.

Mau atau tidak mau, percaya atau tidak percaya, siap atau tidak siap..
Kematian itu akan menyapa kita dan memutuskan segalanya. Kematian yang menjadi awal dari hal hal besar itu akan dimulai. Semua dari kita, terbangun dari Alam kubur dan reuni dipadang mahsyar..

Ummat Muhammad Sholallahu’ Alaihi wa salam berkumpul dengan cahaya dibekas bekas wudhunya. Orang orang kuffar berjalan dengan kepala sebagai kakinya. Tanah disana basah dengan keringat ketakutan.. hingga semua tidak sadar bahwa dirinya telanjang.

Bagi orang orang kalah..
Disana mereka berdiri menanti puluhan ribu tahun..
50 ribu tahun adalah bukan hitungan masa yang singkat jika dibandingkan usia kita di dunia yang hanya berkisar 100 tahun saja bukan?

Apakah masih menganggap dunia ini begitu penting,
Sehingga engkau rela dibuat lelah dan letih menangis untuknya?

Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Andaikata dunia ini di sisi Allah dianggap menyamai -nilainya- dengan selembar sayap nyamuk, sesungguhnya Allah tidak akan memberi minum seteguk airpun kepada orang kafir daripadanya.” (HR Imam Tirmidzi, dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi r.a)

Remeh dunia ini brother..
Tentunya semua orang yang berdatangan meramaikan hidup kita adalah bukan kebetulan, karena kita berada dihari ini atas rangkaian peristiwa itu, yang kemudian kita menyebutnya masa lalu.

Sedahsyat apakah masalalumu itu?
Hingga ia menjerat langkah langkahmu?
Hingga ia membuatmu enggan hidup dan terbangun?

Bangunlah, hari sudah siang..
Bersahabatlah dengan masalalumu, karena ia bukan siapa siapa. Ia adalah buku berharga untukmu bercermin.

Mengenai sakit hati,
Dendam, atau apapun namanya.
Itu hanyalah penyikapan kita yang salah.
Untuk menjadi bijak kita memang harus benar benar lapang.
Tidak usah melulu menimbang nimbang siapa yang sebenarnya bersalah, atau siapa yang seharusnya meminta maaf. Maafkanlah masalalumu dan bangkitlah!

Sudah..
Sudahlah…
Tak usah menguras energi untuk mengingati kesalahan.
Karena Semesta ini telah Allah ciptakan tanpa kesalahan, semuanya adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan, kesemuanya adalah perencanaan mengagumkan yang tercipta dengan kemaha-an Nya untuk memunculkan hikmah hikmah Agung-Nya.

Indah dunia ini kawan..
Berjalanlah lihat lihat situasi, jangan hanya mengira dunia ini sepetak sudut menjemukan ditempatmu duduk termenung sahaja. Masih ada sudut sudut di kota lain yang harus engkau lihat..

Jangan menjerat dirimu dengan mengatakan dunia ini sempit.
Seluas apa dunia ini, itu bergantung seluas apa matamu memandang..
Jika engkau hanya mengintipnya dari dinding kamar, tentu lebarnya tidak melebihi ukuran jendela kamarmu. Disana hanya itu itu saja yang engkau lihat. Mungkin hanya cicak cicak yang penyabar yang menunggu nyamuk hinggap didekatnya..

Mari kita samakan presepsi,.
Bahwasannya sakit hati dan teman temannya yang sering mengganggumu itu, adalah tanda kecintaanmu yang terlalu dalam kepada dunia fana ini. Sehingga jiwamu terbebani untuk menggapai semua harapan itu. Hingga fikiranmu terfokus untuk menyelesaikan semuanya didunia ini. Hingga lupa pengadilan Nya. Itulah kelalaian terbesar jiwa jiwa yang hidup, terlupa bahwa diujung kehidupan itu ada kematian.

Kematian pun bukan akhir segalanya.
Ia adalah awal dari penderitaan penderitaan lain dan atau sebaliknya.
Jangan sampai kesengsaraan kita berlanjut hingga kesana..
Jangan sampai status kita yang rendahan ini berlanjut kesana..
Karena dari sana tidak ada ujung lagi..

Sederhana dunia ini,
Di ujungnya hanya kematian..
Dan kemenangan besar itu disana, bukan disini.

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar” (Firman Allah, QS Annisa : 13)

Benar dunia ini pilihan.
Maka persiapkanlah, pilihlah yang terbaik, pilih dari sekarang dan putuskan.
Biarkan kafilah kafilah sakit hati itu berlalu..
Beterbangan bersama debu debu keserakahan dunia.

Rabalah dadamu..
Yakinkan disana masih ada detakan kehidupan.
Maka hidup, dan dewasalah. Didiklah jiwa itu se-disiplin mungkin agar tidak tunduk dan kalah dan bersedih dengan hal hal kecil seperti “dia” dan DUNIA ini.

Semoga Allah memberi sepercik ketenangan dihatimu saudaraku,
Sering seringlah melihat ayat ayat kauniah Nya yang bertebaran di semesta yang indah ini.

Agar tidak banyak waktu yang terbuang sia sia..

Be Strong!
coz you’re MOSLEM,,,the best UMMAH
INSHA ALLAH.

 

 

Sumber

Tinggalkan komentar »